Minggu, 16 Oktober 2011

___Manusia tak bisa hidup sendiri___


Rasanya, tak heran ada sbagian orang yang bilang kalau aku ini termasuk tipe penyendiri yang anti social.
Jika diliat dari luar sih, memang bgitu adanya. Toh memang benar. Aku sebisa mungkin, menarik diri di antara kerumunan orang.
Aku pernah berfikir, untuk tidak bersinggungan dengan orang lain.
Kenapa?
Karna aku takut terluka dan melukai.
Terluka itu sakit dan terkadang memilukan, tangis pun kadang keluar tak terbendung.
Sebab itulah... kubangun stinggi mungkin tembok pembatas antara duniaku dan dunia luar sana. Biar tak ada yang menerobos masuk teritori amanku.
“Menolak kehadiran orang lain”
Itu yang ada dipikirku, dengan begitu aku mrasa lebih aman.
Tapi... apa tindakan itu benar?
Sengaja menjauh dari orang-orang, hidup sendiri, menhindari masalah dan mengucilkan diri.
Ada yang bilang...
Pengucilan diri hanya untuk mereka yang siap kesepian. Pilihan ada ditangan manusia. Maukah ia tetap terasing dan aman, atau maukah ia melangkah ke tengah-tengah orang dan merasakan senang-susahnya hidup bersama mereka.
Mendengarnya, aku trasa tertusuk.
karna aku sadar, meski aku tidak berencana memasukkan orang lain dalam agenda emosionalku dengan brsikap cuek... ternyata tetap ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam teritoriku walau hanya melalui kata.
Masih ada yang memperhatikan aku, ada yang ingin melangkah bersamaku. Tanpa ku minta, ada yang datang beri bantuan saat ku butuh.
Masalahnya...
Aku takut menerima keberadaan mereka dalam duniaku, aku takut mereka akan mrasa kecewa stelah menerimaku dalam dunianya.
Aku takut mereka akan menjadi hal yang berharga buatku, dan terluka saat mereka hilang.

... manusia tidak mungkin terus-terusan takut pada hidup itu sendiri. Bila ia mau menempuh risiko mengalami kepahitan. Sebagai balasannya akan ada kegembiraan yang ia temui.

Yang ku tau, manusia punya pilihan dan bebas mau memilih apa di antara pilihannya itu. Akan ke mana ia membawa dirinya (atau orang disekitarnya). Hanya ia yang dapat menentukan. Hidup adalah pilihan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar